Membandingkan krisis ekonomi sekarang dengan Great Depression
Berita ini muncul dalam percakapan kita sehari-hari. Ini adalah topik yang muncul hampir setiap hari pada koran lokal dan nasional. Tidak ada seorangpun yang tidak terpengaruh olehnya. Resesi yang kita hadapi sekarang ini dianggap sebagai krisis ekonomi terburuk sejak Depresi Hebat (Great Depression). Statistik yang keluar memperlihatkan bahwa resesi ekonomi akan menjadi semakin dalam. Jadi bagaimana resesi yang kita hadapi terakhir ini dibandingkan dengan Depresi Hebat?
Penyebab
Sulit dikatakan jika penyebabnya hanya satu saja karena begitu banyak faktor yang terlibat. Bencana di satu bidang ekonomi dapat menyebabkan efek berantai. Banyaknya faktor yang saling bercampur juga menjadi penyebab terjadinya Depresi Hebat. Dalam tahun 1920, bisnis berkembang pesat dan orang berhasrat untuk lebih cepat kaya. Tetapi, ledakan pertumbuhan sehabis perang mendorong banyak industri untuk membuat lebih banyak lagi produk daripada yang bisa mereka jual, dan Perang Dunia I meninggalkan hutang dan pajak dalam jumlah yang sangat besar pada banyak negara.
Salah satu faktor penyebab yang sama antara Depresi Hebat dengan krisis ekonomi sekarang terjadi adalah kredit. Sebelum Depresi Hebat, kredit sangat mudah di peroleh dan banyak orang menumpuk hutang. Orang berinvestasi dalam pasar saham dengan menggunakan keuntungan atau dengan meminjam uang terlebih dahulu, sehingga semuanya beroperasi seperti layaknya judi. Orang membeli saham-saham saat harga tinggi dengan harapan bisa menjualnya kembali saat harga lebih tinggi. Harga saham lalu melebihi nilai riil-nya. Ekonomi terus menggelembung. Ketika gelembungnya meletus, maka para pemegang saham buru-buru menjual saham mereka dan pada akhirnya pasar saham menjadi hancur.
Kondisi yang sama dapat terlihat pada pasar keuangan pada beberapa tahun belakangan ini, khususnya di bidang real estate. Orang berinvestasi di real estate karena didorong oleh terus naikknya harga rumah sehingga menjadi over inflasi. Praktek peminjaman yang dilakukan oleh bank-bank menambah kekacauan, yang mana banyak orang disetujui pinjamannya meskipun tahu mereka tidak bisa membayarnya kembali. Sebagai konsekwensinya, lembaga-lembaga keuangan besar seperti Fannie Mae dan Citigroup kehilangan uang dalam jumlah yang luar biasa akibat menerapkan praktek tersebut. Ketika gelembung real estate meletus, semua bidang ekonomi juga terhantam hebat.
Statistik
Setelah kehancuran pasar saham tahun 1929, GNP (Gross National Product) menurun dari $87 milyar menjadi $41 milyar dalam waktu empat tahun. Jumlah pengangguran pada tahun 1930 mencapai 7 juta orang, dan tahun 1931 mencapai 12 juta orang. Jumlah pengangguran terbesar terjadi pada tahun 1932, ketika 15 juta orang kehilangan pekerjaan. Tingkat pengangguran pada tahun 1932 mencapai 25%, artinya satu dari empat orang Amerika tidak punya pendapatan untuk bisa bertahan hidup.
Laporan terakhir sekarang ini menyebutkan bahwa jumlah pengangguran mencapai 5 juta orang. Menurut laporan yang di luncurkan pada 6 Maret 2009, tingkat pengangguran sekarang adalah 8,1 %. Ini adalah tingkat pengangguran tertinggi semenjak 1983. Pada bulan Januari 2009, jumlah PHK mendekati 600,000, terbesar sejak 1974. Bursa saham Dow Jones pada tanggal 2 Maret 2009 juga menyentuh level di bawah 7,000, terendah sejak 1997.
Dampak
Pemilihan presiden terbukti juga terpengaruh oleh krisis ekonomi. Pada tahun 1932, Presiden Herbert Hoover kembali mencalonkan diri menjadi presiden menghadapi Franklin D. Roosevelt. Roosevelt yang akhirnya memenangi pemilihan. Sementara presiden sebelumnya menjadi orang yang paling dipersalahkan karena terjadinya Depresi Hebat. Rakyat Amerika merasa bahwa ia tidak cukup melakukan penyelamatan ekonomi.
Krisis ekonomi dan respon tiap kandidat menjadi topik utama kampanye antara Barack Obama dan John McCain pada tahun 2008. Sesungguhnya, John McCain tidak belajar dari sejarah karena ia bertahan pada pernyataan partai Republik yang menyatakan bahwa fundamental ekonomi kuat dan akan memperbaiki dirinya sendiri.
Kejatuhan ekonomi yang dalam juga mempengaruhi dan merusak stabilitas politik. Era Depresi Hebat juga menyebabkan ketidaktentraman politik. Dekade 1930-an ditandai oleh meningkatnya fasisme dan Nazisme di Eropa. Dennis Blair, kepala intelijen Obama, mengklaim bahwa krisis ekonomi yang terjadi sekarang ini dapat menjadi ancaman terbesar terhadap keamanan global. Dengan memanasnya atmosfir ketakutan, curiga, dan ketidakamanan, maka tidak sulit untuk mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi.
Kesimpulan
Banyak sekali perdebatan yang terjadi mengenai apakah negara kita akan menghadapi Depresi Hebat seperti yang terjadi pada tahun 1930. Ketika krisis ekonomi global sekarang telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, tetapi banyak pakar memprediksikan bahwa resesi akan lebih dalam sebelum menjadi lebih baik seiring membaiknya perusahaan dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber materi:
"Why Your Bank is Broke" by Stephen Gandel. Time. time.com/time/business/article/0,8599,1874702,00.html
"Is the Economic Crisis a Security Threat, Too?" Bruce Crumley and Tony Karon. Time. time.com/time/world/article/0,8599,1881492,00.html
The Great Depression and World War I. Gerald D. Nash. St. Martin's Press; New York: 1979.
The Great Depression: An Eyewitness History. David F. Burg. Facts on File; New York; 1996.
Brother, Can You Spare Me a Dime? Milton Meltzer. Alfred A. Knapp; New York; 1969.
Sumber: Rebecca Maxwell - http://myadventuresinhistory.blogspot.com